trigyfied is a drama queen writer..
every moment in our life is dramatic, so the description of that story is important..

Jumat, 11 Maret 2011

cuma bisa nangis..

teringat saat jumat pagi, dimana salah satu dosen terfavorit tengah menyampaikan materi..

sedikit intermezzo tentang sebuah kisah hidup seorang pria yang mematahkan teori sebuah ‘hubungan’..

tulisan dibawah ini berasal dari seorang teman yang didapatnya dari dosen tersebut..

hanya satu kalimat yang mampu aku ucap..

“cuma bisa nangis..”

selamat membaca kawand..

>>>

apa yg sy ceritakan tidak persis seperti apa yg ada pada ceritanya…. maaf, krn memang membacanya skilas saja… tp, cerita di tulisan ini jauh lebih menyentuh… smoga jadi cermin bagi siapapun

Teman-teman ysh,

A very touching story about human being. Enjoy, dari milis sebelah.

Hera

jika ada yg pernah mendapatkan email ini, mohon maaf ya. tapi ga ada

salahnya dibaca lagi, sungguh menyentuh….Patut dijadikan panutan nih,

biar bahagia dunia akhiratDiarsipkan di bawah: Uncategorized —

adriannugraha @ 10:05 am

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya

sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan.

Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan

juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di

negeri ini.Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita

beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat.

Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai

eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah

senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat

merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang

ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu

terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi

lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa

digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan,

membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur.

Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum.

Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari

kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya

makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas

maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja

yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat

tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan.

Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat

tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan

penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah

hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg

masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya–

karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga

masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka

karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak

merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan

bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung

berlinang.

“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa

ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan

berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji

akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan

permohonannya.

”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu,

mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian

di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan

kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan

hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai

dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya

seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa

bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian

menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang

lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal

yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat

butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu

ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta

untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak

Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah

tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir

di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan

sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga,

pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi

pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat

saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia

memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena

berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya,

apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya.

Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil

menangis

” Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita

kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya

percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA CINTA SAYA

KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.

Dear my friends, that’s a true story from someone who taugh me about the

important of investment three years ago. I wish i could be someone like

him…to give all attention to family..i believe family is our precious

thing..more than money or gold

posted @ Facebook on Wednesday, December 22, 2010 at 11:27am

1 komentar:

  1. ihh wawwWw .. aQ trhatu neh ,.. mnyentuh, jeRoo bgt . hiks.. :'(

    BalasHapus

Twitter Bird Gadget