trigyfied is a drama queen writer..
every moment in our life is dramatic, so the description of that story is important..

Jumat, 11 Maret 2011

Jangan bertemu,aku sudah bilang padamu..

“Ketemu yukk..” kalimat itu akan terasa jauh lebih indah seperti biasanya, andai saja tidak ada sms sebelumnya. Satu kata PUTUS mengiringi kalimat itu dengan begitu indah, untuk kesekian kalinya.
Untuk pertama kalinya aku meng-IYA-kan permintaannya untuk memutuskan hubungan. Lalu terlontar kalimat itu darinya, tertera begitu saja di layar ponselku dengan berjuta pertimbangan saat aku membacanya.

‘Untuk apa bertemu??’ benakku. Kita sudah PUTUS, dengan aku bilang IYA saat ia memintanya kali ini. Entah berapa kali ia meminta hal ini dari sejak lama..aku sudah lelah selalu dibanjiri kata itu dalam setiap sms yang dikirimnya. Aku begitu menyayanginya, sehingga selalu aku tolak dengan berbagai alasan dan selalu ku coba untuk memperbaiki semua kesalahan. Aku rasa kami bisa menjalani hubungan yang lebih baik sepertinya beberapa bulan ini, tapi ternyata..entah mengapa kata itu kembali terontar darinya. Sudah..cukup..aku muak mendengarnya, aku serasa dihantui oleh kata-kata itu jika bersamanya.

IYA..aku bilang untuk menyetujui permintaan PUTUS itu, akhirnya.
Dia memastikan dengan menanyakannya kembali, dan aku bilang IYA lagi untuk meyakinkannya bahwa aku benar-benar menyetujui permintaannya kali ini.
Saat dia memintaku untuk bertemu, aku menolaknya. Dia berkata bahwa kami harus bertemu, memastikan bahwa perasaan itu memang sudah tidak ada, sehingga kami akan siap dan dengan mantap mengambil langkah ini. Aku menolaknya, sungguh.. Sejuta alasan bahwa pertemuan itu adalah untuk memastikan perihal dirinya melontarkan kata PUTUS dan aku bilang IYA tersebut adalah bukan hanya emosi semata. Adalah kata itu benar-benar terlontar karena kami sudah tidak mampu, tidak sanggup lagi untuk melanjutkan hubungan. Well..Aku menolaknya, benar-benar menolaknya. Sungguh..jika pun kami bertemu tidak akan merubah hal apapun.

Aku mungkin tidak akan pernah menyaksikannya meneteskan air mata saat aku menolaknya mentah-mentah untuk bertemu saat itu. Keinginannya untuk memastikan, meikrarkan bahwa hubungan ini memang benar-benar telah berakhir, aku tolak begitu saja. Dia begitu sangat mudah menangis, saat menonton film sekalipun. Dia pernah menyebutkan bahwa hal yang paling bisa membuatnya bersedih adalah saat merasa ditinggalkan, mungkin juga saat menerima penolakan. Mungkin saat ini dia sedang menangis, entahlah..setidaknya dengan tidak bertemu, aku takkan melihatnya menangis, aku sungguh paling tidak bisa melihat orang menangis, terlebih jika ia menangis karena aku.

Tanpa adanya pertemuan pun aku anggap semuanya telah berakhir. Saat kata PUTUS itu terlontar, sepenggal rasa sayangku hilang terkoyak gemuruh petir secepat kilat, rasa itu tercerai bahkan lebih cepat dibanding saat halilintar menyambar bumi sekalipun..saat aku bilang “IYA”, seketika rasa itu hilang begitu saja diterpa badai jauh meninggalkannya dengan begitu mudahnya. ‘Sudah..tidak usah bertemu..tidak akan merubah apapun’ , benakku.

Beberapa bulan setelahnya aku kembali mendapatinya mengajakku bertemu, setelah kami melewati masa hubungan dengan pasangan kami masing-masing dengan hubungan yang cukup singkat. Akh..akhirnya aku mengiyakannya untuk bertemu. Entahlah..aku tak pernah mengerti alasannya untuk pertemuan ini.Tapi baiklah..kita bertemu saja. Mungkin dengan begini, akan mengakhiri effort-nya untuk mengajakku bertemu lagi.

Hari itu, kami pun bertemu. Dia memakai pakaian bernuansa biru, warna kesukaanku. Dia cantik seperti biasanya. Manis, seperti biasanya.Tapi sungguh..aku tak merasakan apapun. Dia manja, seperti biasanya. Lucu, seperti biasanya. Tapi sungguh..rasa itu telah hilang, entah kemana.

Dia menyenangkan, seperti biasanya. Dia selalu bisa membuatku nyaman saat didekatnya, seperti biasanya. Aku seakan kembali terbawa ke masa dimana dirinya adalah hal terindah yg pernah kumiliki semasa hidup. Tapi entahlah..tetap saja ada yg beda..rasa itu..hilang..entah kemana.

Pertemuan itu berakhir dengan kekecewaan yang tersirat jelas dalam wajah manisnya. Aku sungguh tak mampu lagi merasakan rasa itu..sungguh..’aku sudah tidak punya perasaan apapun lagi terhadapmu’, kalimat itu terlontar dari mulutku begitu saja. Kemudian dia berlalu, mengisakkan tangis yang hampir tidak pernah aku lihat jelas mengalir dalam pipi merahnya saat ia membelakangiku. Hanya segukan kecil yang terdengar samar saat ia berlari menjauh.

Jangan bertemu..aku sudah bilang padamu. Ini yang akhirnya terjadi, aku terpaksa harus mengungkapkan bahwa memang rasa itu telah pergi, maaf. Sungguh..jangan bertemu..bertemu pun takkan mengubah apapun. Jangan bertemu..aku sudah pernah bilang padamu.

*kisah seorang pria dengan sebuah rasa yang ditinggalkannya.

posted @ Facebook on Saturday, August 7, 2010 at 3:47pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Twitter Bird Gadget